Sosiologi Olahraga

SOSIOLOGI OLAHRAGA

Cakupan dan Fungsi Pengendalian Sosial
Cakupan-cakupan dalam pengendalian sosial
Ada tiga cakupan pengendalian sosial, diantaranya sebagi berikut:
Individu dengan individu
contoh : Setiap pemain selalu berjabat tangan dengan lawan sebelum dan sesudah pertandingan.
Individu dengan kelompok
contoh : Seorang ketua regu gerak jalan memimpin teman-temannya.
Kelompok dengan kelompok
contoh : Tawuran antara suporter Persebaya dengan suporter Arema.
Fungsi dari pengendalian sosial yaitu:
Menyakinkan setiap individu terhadap kebaikan suatu norma, yaitu dengan melalui pendidikan baik formal maupun non formal. Melalui pendidikan formal ditanamkan kepada peserta didik kesadaran untuk patuh aturan, sadar hukum dan sebagainya. Misalkan seorang siswa yang belum terjun dalam dunia olahraga mendapatkan pendidikan mengenai tata tertib, maka saat ia terjun dalam dunia olahraga, secara tidak langsung ia akan mematuhi setiap peraturan yang berlaku. Sedangkan pendidikan non formal melalui media massa dan alat-alat komunikasi menyadarkan warga masyarakat untuk beretika baik, menaati tata tertib dan sebagainya. Misalkan seorang anak yang membaca buku tentang norma-norma sepakbola, maka ia akan mengetahui bagaimana peraturan-peraturan yang ada saat bermain sepakbola (Drs. Arief Herdiyanto, 2000).

Cara-cara dan Bentuk Pengendalian Sosial
Cara-cara pengendalian sosial
Ada 3 macam cara pengendalian sosial yaitu:
Cara Persuasif
Cara persuasif lebih menekankan pada usaha untuk mengajak atau membimbing agar dapat bertindak sesuai dengan aturan atau norma yang berlaku. Aspek kognitif (pengetahuan) dan afektif (sikap) sangat ditekankan.
Cara Koersif
Cara koersif lebih menekankan pada tindakan atau ancaman yang menggunakan kekerasan fisik. Tujuan tindakan ini agar si pelaku jera dan tidak melakukan perbuatan buruk lagi.
Cara Sosialisasi
Sosialisasi diharapkan dapat menghayati (menginternalisasikan) norma-norma serta nilai dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bentuk-bentuk pengendalian sosial
Bentuk-bentuk pengendalian sosial yaitu:
Desas desus atau gosip
Merupakan “kabar burung”atau “kabar angin” yang kebenarannya sulit dipercaya. Namun dalam masyarakat pengendalian sosial ini sering terjadi. Gosip sebagai bentuk pengendalian sosial yang diyakini masyarakat mampu untuk membuat pelaku pelanggaran sadar akan perbuatannya dan kembali pada perilaku yang sesuai dengan nilai dan norma dalam masyarakat.
Teguran
Merupakan peringatan yang ditujukan pada pelaku pelanggaran. Bisa dalam wujud lisan maupun tulisan. Tujuan teguran adalah membuat si pelaku sesegera mungkin menyadari kesalahannya.
Hukuman
Adalah sanksi negatif yang diberikan kepada pelaku pelanggaran tertulis maupun tidak tertulis.
Pendidikan
Pengendalian sosial yang telah melembaga baik di lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat. Pendidikan membimbing seseorang agar menjadi manusia yang bertanggung jawab dan berguna bagi agama, nusa dan bangsanya. Seseorang yang berhasil di dunia pendidikan akan merasa kurang enak dan takut apabila melakukan perbuatan yang tidak pantas atau menyimpang bahkan melanggar peraturan.
Agama
Merupakan pedoman hidup untuk meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Sebagai pemeluk agama seseorang harus menjalankan kewajiban dan menjauhi larangan.
Kekerasan fisik
Kekerasan fisik akan dijalankan sebagai alternatif terakhir dari pengendalian sosial, apabila alternatif lain sudah tidak dapat dilakukan. Namun banyak kejadian, perlakuan ini terjadi tanpa melakukan bentuk pengendalian sosial lain terlebih dahulu.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: